RSS
Facebook
Twitter

Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013



Mengapa saat kita mengupas atau memotong bawang merah, mata kita bisa berair?
Hal ini disebabkan karena bawang merah (Allium cepa) mengandung sulfur, yang dapat menganggu mata dan hidung. Ketika dipotong, bawang melepaskan senyawa sulfur ini ke udara. Begitu kontak dengan air mata, senyawa ini menghasilkan asam sulfur, yang menyebabkan iritasi. Kemudian, mata menghasilkan air mata untuk menyingkirkan benda yang mengganggunya itu. Menggosok mata hanya akan semakin mengiritasi mata karena, setelah bersentuhan dengan bawang, jari juga terkena senyawa sulfur itu.
Petani Inggris telah mengembangkan bawang merah yang tidak mengiritasi mata. Jenis ini dikenal sebagai “supasweet onion”. Bawang merah ini ditumbuhkan dalam tanah yang rendah sulfur, dan akibatnya kandungan sulfur dalam bawang ini jauh berkurang.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Suatu hari saya pergi ke rumah teman untuk membantu masak-masak. Ketika saya hendak memotong bawang merah, nenek teman saya meletakkan sebutir gula jawa di dekat bawang merah-bawang merah itu. Kata beliau, dengan melihat gula jawa dan bawang merah secara bersamaan, mata kita tidak akan mengeluarkan air mata saat memotong bawang merah tersebut. Awalnya saya tidak percaya, namun ternyata cara ini memang terbukti. Sejak saat itu saya sering meletakkan gula jawa di dekat bawang merah yang akan dipotong.
Saya jadi penasaran, mengapa gula jawa dapat mengatasi keluarnya air mata yang disebabkan oleh bawang merah. Sudah browsing kesana kemari, namun tidak menemukan jawabannya. Kemudian saya bertanya kepada salah satu teman yang kuliah di jurusan kimia. Menurutnya, kemungkinan gula jawa ini sifatnya basa sehingga dapat menetralisir asam sulfur dari bawang merah. Sedangkan menurut wikipedia, bawang merah mengandung vitamin C, kalium, serat, asam folat, kalsium dan zat besi. Nah, jadi bawang merah itu bersifat asam atau basa? Untuk itu saya ingin meminta sepotong kertas lakmus dari laboratorium untuk mengetahui sifat asam basa gula merah. Namun saya tidak berani. (>.<) *ya elah!! plak!!*
Ada pula yang mengatakan, agar kita tidak mengeluarkan air mata saat memotong bawang merah, maka letakkan bawang putih di ujung pisau yang digunakan untuk memotong tersebut. Kalau cara ini, saya belum pernah membuktikan keefektifannya. Dan mungkin masih banyak cara lain yang dapat kita pakai agar kita tidak “menangis” saat memotong bawang merah.

Jumat, 15 Februari 2013



Jalan hidup setiap orang memang berbeda, begitu pula masalah jodoh karena katanya ini ada di tangan Tuhan. Menikah idealnya dilakukan saat usia 20-an tahun. Penelitian bahkan menemukan bahwa orang yang tak menikah cenderung lebih cepat meninggal.

Boleh percaya atau tidak, ada peneliti yang menganalisis hubungan antara menikah dengan lama hidup seseorang. Entah karena iseng atau penasaran, peneliti menemukan kesimpulan yang cukup mengejutkan, yaitu orang yang tak punya pasangan saat berusia paruh baya lebih tinggi risikonya mengalami kematian.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr Ilene Siegler dan rekan-rekannya dari Duke University Medical Center di AS. Tujuannya untuk mencari tahu mengapa ada sebagian orang yang tak dapat bertahan hidup sampai usia tua. Para peneliti ingin melihat pentingnya menikah bagi kesehatan.

Dalam laporan yang dimuat jurnal Annals Springer of Behavioral Medicine, para peneliti melihat efek riwayat dan waktu perkawinan serta usia kematian pada orang berusia paruh baya. Ada data dari 4.802 orang yang diteliti faktor kepribadiannya saat berusia 18 tahun, status sosial ekonomi dan perilaku yang berisiko bagi kesehatan.

Temuan menunjukkan bahwa kehadiran pasangan saat usia paruh baya bisa melindungi dari kematian dini. Orang yang tidak pernah menikah lebih berisiko 2 kali lipat mengalami kematian dibandingkan dengan orang yang pernikahannya langgeng. Menduda atau menjanda tanpa mendapat pengganti pasangan juga dapat meningkatkan risiko kematian. 

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa perhatian terhadap pola hubungan tanpa menikah terbukti berhubungan dengan kematian dini. Ikatan sosial selama usia paruh baya sangat penting untuk membantu kita memahami kematian dini," kata dr Siegler seperti dilansir Counsel and Heal, Senin (14/1/2013).

Usia paruh baya atau dewasa madya adalah rentang usia 40 - 60 an tahun. Sayangnya peneliti tidak menyebutkan apa saja penyebab kematian orang-orang pada usia paruh baya ini. Walau demikian, setidaknya penelitian ini menemukan salah satu manfaat menikah di antara sekian banyak manfaat lainnya.


Sudah banyak penelitian membuktikan bahwa pernikahan bisa memperbaiki status kesehatan seseorang, mulai dari jaminan umur panjang lebih terhindar dari berbagai risiko penyakit. Lalu bagaimana dengan nasib para jomblo alias lajang?

Penting untuk dicatat, pernikahan dengan peningkatan status kesehatan biasanya tidak berhubungan secara langsung. Biasanya, keberadaan partner atau pasangan itulah yang membuat orang yang menikah lebih peduli pada kesehatan karena bisa saling mengingatkan.

Bisa juga ditarik hubungan yang lebih dekat, yakni dengan tingkat kebahagiaan pada pasangan menikah. Adanya partner untuk saling berbagai bisa mengurangi stres, sementara stres itu sendiri merupakan fakto risiko berbagai penyakit mematikan termasuk stroke dan sakit jantung.

Lalu apakah para jomblo tidak bisa menjadi lebih sehat? Dibandingkan pasangan yang pernikahannya baik-baik saja, mungkin benar. Jomblo kalah sehat lahir batin. Tetapi perlu diingat pula bahwa dalam kenyataannya tidak semua pernikahan itu membahagiakan.

"Pernikahan yang buruk kadang justru membuat orang merasa lebih terisolasi daripada saat masih lajang," kata Eric Klinenberg, seorang penulis buku tentang hidup lajang seperti dikutip dari Huffingtonpost, Jumat (15/2/2013).

Pernikahan yang tidak membahagiakan, yang isinya hanya cekcok dan uring-uringan kadang-kadang membuat orang berpikir bahwa menjadi lajang mungkin jauh lebih sehat. Kalau pada akhirnya juga bikin stres, maka pernikahan tidak lagi menyehatkan.

Bukti lain bahwa kadang-kadang menjadi jomblo alias lajang malah lebih sehat adalah sebuah penelitian tahun 2011. Dalam penelitian yang melibatkan 10.000 orang dewasa ini, orang dewasa yang pernikahannya romatis pun cenderung mengalami peningkatan berat badan lebih banyak dibandingkan para lajang.

Jadi jangan khawatir, status lajang atau menikah tidak selalu mempengaruhi kesehatan. Daripada memaksakan diri punya pasangan semata-mata hanya untuk menghindari sakit, tentu lebih baik melakukan hal lain yang jelas manfaatnya yakni olahraga dan menjaga pola makan yang sehat

Sabtu, 02 Februari 2013

Sudah saatnya para guru mengganti pulpen bertinta merah miliknya dengan tinta warna biru atau hitam. Sebab pulpen merah ditengarai buruk bagi perkembangan anak.

Hasil studi para peneliti dari Universitas Colorado-lah yang mengatakan pulpen berwarna dapat memberikan dampak negatif pada cara berpikir seorang anak terhadap gurunya. Dalam penelitian Colorado yang diterbitkan dalam Social Science Journal, Profesor Sosiologi Richard Dukes dan Asosiasi Profesor Heather Albanesi menegaskan pulpen merah merupakan warna yang memiliki makna emosional yang dapat menyebabkan
seorang siswa merasa 'diteriaki'.

Dukes dan Albanesi mengatakan 'muatan emosional' ini bisa mengubah persepsi siswa terhadap kritik sehingga melempar kesalahan kepada guru dengan memberikan timbal balik yang buruk. Mereka pun menyarankan para guru menggunakan pulpen biru jika ingin komentarnya dijadikan kritik yang membangun. Demikian dikutip dari news.com.au, Rabu (23/1/2013).

Namun Amy Kirkham, Direktur Pelatihan dari Montessori School Foundation of Australia, berpendapat sebaliknya. Menurutnya tidak ada masalah digunakannya pulpen merah atau warna lainnya selama guru memberikan respons terhadap kesalahan yang dilakukan siswa dengan benar.

"Melakukan kesalahan merupakan ide terbentuknya 'berteman dengan kesalahan' dan 'mengontrol kesalahan' yang dipraktikkan dalam kelas Montessori," kata Amy.

"Siswa berumur tiga tahun memasuki dunia belajar formal pada tingkat pertama untuk mempelajari lingkungannya. Mereka dikenalkan pada ide mengoreksi sendiri. Dengan
membangun 'mengontrol kesalahan', anak-anak bisa mengidentifikasi kesalahannya dan memperbaiki kesalahannya secara independen," sambungnya.

Dia memberikan contoh, ketika para siswa bermain dengan balok silinder dan meletakkkannya sesuai dengan ukuran lubang dan warna yang sama, mereka memasukkannya ke lubang yang tepat. Saat salah satu balok silinder tidak pas dengan lubangnya, mereka mencari lubang yang tepat. Hal itu memperlihatkan anak-anak yang sedang mengindentifikasi kesalahannya.

Sementara itu ahli psikologi klinis, Sally-Anne McCormack, mengatakan terlalu banyak menaruh fokus pada warna pulpen adalah hal yang salah. "Ini adalah saran yang lucu dan membuang-buang waktu," kata McCormack yang berpendapat kritik merupakan bagian normal dari kehidupan sehari-hari.

McCormack bahkan merekomendasikan guru untuk mengkritisi setidaknya 15 persen dari total pekerjaan yang telah dilakukan siswa. "Memfokuskan kritik dari warna pulpen yang digunakan merupakan hal yang kurang baik. Pekerjaan sebagai guru haruslah membangun dan mengajarkan murid untuk menyesuaikan diri dari segala pekerjaannya yang dibuatnya," terang Cormack.

Sementara itu, ahli psikologi, William Campos berpendapat komentar dan suatu hubungan antara murid dan guru merupakan indikator yang lebih memiliki arti dibanding warna pulpen yang digunakan. "Warna merah diasosiasikan dengan tanda berhenti dan kemarahan, hal tersebut bisa mendatangkan respons ketakutan," ujar Dr Campos.

"Kebanyakan manusia membuat keputusan mengenai bagaimana mereka bereaksi dalam 30 detik ketika melihat seseorang atau sesuatu. Artinya, warna bisa saja memberikan dampak. Namun komentar yang diberikan guru kepada muridnya jauh lebih penting dibandingkan warna pulpen yang digunakan," imbuhnya.